Selasa, 19 Agustus 2008

PENCURI

Oleh: Rangga Agnibaya

Suara gaduh terdengar dari sebuah pos penjaga. Makian, teriakan, dan suara benda keras dipukul-pukulkan cukup membuat orang-orang yang kebetulan lewat di depan pos dan akan menuju supermarket di depannya berpikir, telah terjadi sesuatu yang menyeramkan di dalam pos tersebut. Tak lama kemudian keluar sesorang berseragam satpam dengan muka masam. Menghampiri temannya yang juga berseragam satpam, duduk membaca Koran.
“Sama saja. Yang diucapkannya selalu sama setiap tertangkap, seperti dua minggu yang lalu, ketika tertangkap basah mencuri pasta gigi.” Satpam bermuka masam itu duduk tepat di sebelah temannya. Masih dengan muka yang masam.
“Omongannya ngelantur kaya orang gila. Atau mungkin dia benar-benar orang gila. Kalau begitu, buang-buang waktu dan tenaga saja aku tadi, brengsek.”
Temannya menoleh sembari melipat Koran yang dibacanya dari tadi. Sambil tersenyum simpati dia angkat bicara.
“Mungkin caramu yang salah.” Mengambil gelas berisi kopi yang tinggal terisi setengah, lalu menandaskannya dengan sekali hisap. “Kau lihat caraku sebentar lagi. Harus dengan kesabaran. Sabar,sabar, sabar dan sabar. Itulah kuncinya.he…he.” Tersenyum menggoda temannya yang semakin masam, karena diremehkan kemampuan menginterogasinya. Lalu dia bergegas menuju ke dalam ruang pemeriksaan.
Sesaat suasana hening sekali, tidak terdengar suara apa-apa dari dalam ruangan pemeriksaan. Satpam bermuka masam berpikir, mungkin temannya menerapkan strategi yang benar-benar berbeda dengan dirinya, benar-benar halus, dan sabar.
Untuk beberapa saat suasana tetap hening.
Lalu tak lama kemudian. “Bruaakkkk….” Suara kursi atau mungkin meja dibanting ke lantai terdengar dari dalam ruang pemeriksaan. “Bruaakkk….” Suara itu terdengar berkali-kali.
“Dasar wong gendheng, maling sarap ” Suara membentak terdengar keras sekali dari dalam ruang pemeriksaan, hingga di luar ruang pemeriksaan. Orang-orang yang kebetulan lewatpun kaget bukan kepalang.
“Keluar!! Dan jangan pernah kembali lagi ke sini. Dasar orang gila!!!!”
Satpam bermuka masam menoleh ke belakang dari posisinya duduk. Dan menatap lekat-lekat pintu ruang pemeriksaan yang masih tertutup. Menunggu sesuatu muncul, keluar dari ruang pemeriksaan. Lalu perlahan gagang pintu yang bundar berputar kearah kiri, bersamaan dengan itu pintu bergeser ke dalam ruangan pemeriksaan.
Muncul sosok lelaki tua, usianya antara 70-75 tahun. Rambutnya telah berubah menjadi uban semua. Tapi badannya tampak masih tegap, meski tak setegap dua satpam yang telah menginterogasinya. Wajahnya penuh keriput kehidupan. Telinga kanannya tampak aneh karena tinggal separuh. Melangkah gontai, pelan tapi tidak terseok ataupun tertatih, wajar-wajar saja. Dia terus berjalan menuju pintu pos yang berada tepat di sebelah kanan satpam bermuka masam duduk. Ketika tepat melewati satpam bermuka masam, lelaki tua itu menoleh sambil tersenyum polos. “Nyuwun sewu .” Sapanya pada satpam bermuka masam sambil tetap tersenyum. Satpam bermuka masam membalas dengan tatapan enggan penuh selidik, tapi tanpa bersuara.
“Biarkan saja dia pergi Jo. Polisi pasti malas mengurus orang-orang seperti itu. Paling-paling dilepaskan lagi, sebab dianggap orang sinting.” Teman satpam bermuka masam berteriak dari ruang pemeriksaan. Samara-samar terdengar suara meja dan kursi dirapikan posisinya. Satpam bermuka masam diam tak menjawab, menatap lelaki tua berjalan menjauhi pos penjagaan, lalu area pertokoan dan kemudian hilang ditelan kerumunan orang yang berlalu lalang.
“Sabar, sabar, sabar dan sabar, itulah kuncinya. He..he..” satpam bermuka masam mengejek temannya yang keluar dari ruang pemeriksaan dengan muka masih merah padam. “Aku bilang juga apa! Orang gila dilawan.” Dia meneruskan.
“Ah, aku yakin dia hanya pura-pura gila. Enak saja dia. Waktu berbuat, benar-benar sadar dan kemaruk. Eh giliran ketangkap basah, pura-pura gila, pura-pura sakit. Kuno!klise!klasik! mental tempe!! Dari profesi maling sampai pejabat kok sama saja kalau masalah begituan.” Teman satpam bermuka masam berapi-api, hingga tanpa sadar air liurnya yang menyembur membuat lalat yang bertengger di meja berterbangan karena takut atau bahkan jijik.
“Omonganmu ada benarnya juga Lek. Tadi, waktu kita bebaskan, dia tidak menunjukkan gejala-gejala gila lagi. Bahkan dia sempat berpamitan padaku.”
“Lha iya kan!? Benar kalau begitu dia hanya pura-pura sinting tadi. Yang namanya orang gila itu tidak perlu yang namanya pengampunan. Gila ya gila. Beda kalau pura-pura gila, begitu tahu dapat ampunan, gilanya langsung hilang. Aah kuno!klise!klasik! Mental tempe!” Malek semakin berapi-api, sebab merasa dibodohi oleh orang gila yang pura-pura gila. Bejo hanya tertawa kecil, sebenarnya dia ingin sekali melepaskan tawanya, tapi takut temannya yang sedang geram menjadi semakin geram.
------****------
Seminggu setelah peristiwa interogasi yang gagal, Malek bertandang ke rumah Bejo. Ketika itu sore hari. Namun meskipun sore, panas sinar matahari masih terasa menyiksa di kulit. Cukup berjalan kaki limabelas menit, Malek akan sampai di rumah Bejo. Namun beberapa meter sebelum tikungan terakhir menuju rumah Bejo, kaki Malek terhenti. Matanya tertuju pada sebuah rumah kecil yang saat itu ramai sekali dipenuhi orang pelatarannya. Dari bendera kuning yang terpasang dipagar rumah tersebut sudah cukup membuat Malek yakin bahwa ada seseorang dari penghuni rumah tersebut yang meninggal dunia. Tapi bukan itu yang membuat Malek sedikit menelan ludah yang pekat. Sebuah foto, dan itu pasti foto orang yang meninggal dunia, dipajang dipelataran bersama beberapa karangan bunga yang berwarna-warni. Malek mengenal foto tersebut, ya itu foto lelaki tua yang seminggu lalu dia interogasi bersama Bejo karena tertangkap basah mencuri sikat gigi. Tapi di foto itu lelaki tua tersebut tampak lebih berwibawa. Dia mengenakan peci khas para veteran perang kemerdekaan. Untuk menyingkirkan seribu pertanyaan di hatinya Malek singgah di warung yang letaknya hanya beberapa rumah dari rumah duka. Kemudian dia memesan es teh sebelum bertanya-tanya pada pemilik warung, untuk mengorek keterangan.
“Itu siapa yang meninggal ya bu?” Malek bertanya pada pemilik warung, tapi matanya masih mengarah pada rumah duka.
“Itu Cak Mun yang meninggal.” Pemilik warung menyerahkan es teh yang telah dipesan Malek sebelumnya.
“Cak Mun?”
“Ya Cak Mun, namanya pak Mundari, tapi almarhum maunya di panggil Cak Mun saja. Sebab katanya dulu waktu masih jadi pejuang, teman-temannya memanggil Almarhum demikian.”
“Pejuang?”
“Iya, dulu Cak Mun itu seorang pejuang. Telinga kanannya yang tinggal separuh itu, dirobek peluru musuh, waktu ikut serta dalam pertempuran habis-habisan di jembatan merah. Tapi sayang meskipun dia berjasa karena ikut memperjuangkan nasib negeri ini, tapi nasibnya tidak pernah diperjuangkan oleh pemerintah. Malah justru hidupnya dipersulit.”
“Maksudnya?” Malek meminum es tehnya hingga tinggal separuh gelas.
“Iya. Sebelum tinggal di rumah anaknya itu. Cak Mun tinggal di rumahnya sendiri. Tapi karena surat-surat rumah tersebut tidak lengkap, jadi hak kepemilikannya kurang kuat. Dan akhirnya rumah Cak Mun dan beberapa rumah disekitarnyapun dirobohkan untuk dijadikan pertokoan.”
“Almarhum diam saja?”
“Tentu saja tidak. Almarhum protes pada pemerintah, karena merasa sebagai pejuang tidak pantas diperlakukan seperti itu.”
“lalu?” Malek mencuri pandang kearah rumah duka. Malek melihat orang-orang bersiap membawa keranda yang diselimuti bendera merah putih menuju pemakaman.
“Cak Mun mendapat jawaban yang sangat menyakitkan. Katanya pejuang dibutuhkan pada masa perjuangan, sekarang jaman pembangunan pejuang tidak dibutuhkan lagi. Mendapat jawaban demikian mental Cak Mun tidak siap, jiwanya terganggu dan menjadi gila.”
“Gila?” Tenggorokan Malek terasa tercekat dan pekat sekali. Dia menandaskan es tehnya, untuk membasahi tenggorokannya.
“Iya gila. sudah setahun ini Cak Mun terganggu jiwanya. Almarhum sering berperilaku seperti saat masih menjadi pejuang dulu. Tingkahnya, gaya bicaranya semuanya menggambarkan seolah-olah sekarang ini jaman perjuangan.”
Malek merasa ada yang memukul-mukul dadanya, dan rasa malu menggelembung besar didalam benaknya. Tapi ada satu lagi pertanyaan penting yang ingin dia tanyakan pada pemilik warung, tapi dia ragu.
“Kalau boleh tahu, bagian apa ya Cak Mun dulu?” Malek bertanya penuh keraguan.
“Bagian apa gimana ya?”
“Ya, dulu waktu jadi pejuang Cak Mun mendapat bagian apa? Di garis depan, medis atau dapur?”
“Oh, dulu Cak Mun pernah cerita waktu jaman perjuangan dia dan beberapa temannya mendapat tugas khusus. Dia bertugas mencuri peluru dari gudang penyimpanan senjata milik Belanda waktu malam hari. He..he lucu ya, pejuang kita dulu ternyata juga ada yang jadi pencuri. Tapi kan buat kebaikan bangsa he..he..”
Malek tersenyum kecut, kecut sekali. Tiba-tiba dalam pikirannya tergambar sangat jelas saat-saat dia menginterogasi Cak Mun seminggu yang lalu. Saat itu dia benar-benar dibuat naik pitam oleh jawaban-jawaban Cak Mun yang meluncur polos dan apa adanya, hingga dia menganggap Cak Mun pura-pura gila karena belum tahu latar belakang Cak Mun sesungguhnya. Pikirannya terus mengembara menghadirkan saat-saat itu lagi.
“Kenapa bapak mencuri sikat gigi ini?”
“Tugas negara”
“Lalu untuk siapa bapak mencuri? Untuk bapak sendiri atau untuk keluarga?”
“Sudah saya katakan ini tugas negara, jadi semua ini ya buat negara, ibu pertiwi saya, Indonesia. Merdeka!!!”
“Dari mana asal bapak?”
“Divisi perbekalan Ambengan, tapi kadang-kadang diberdayakan juga di Tambaksari. Tergantung situasi dan kondisi.”
“Sekarang mau bapak apa?”
“Goblok!! Dasar kompeni. Harusnya kamu tahu, orang-orang seperti saya ini mestinya dapat tanda jasa. Jangan malah dipersulit hidupnya. Dasar goblok!”
Malek ingat, setelah kata-kata Cak Mun yang terakhir itu dia membanting kursi di depan pahlawan tersebut karena tersinggung.
“Maafkan aku Cak Mun, aku telah menyamakan dirimu dengan maling-maling rakus yang membikin negara ini rusak. Tidak, kau tidak seperti itu. Kau maling yang mulia, mentalmu mental baja bukan mental tempe seperti mereka. Sekali lagi maafkan aku Cak Mun.” Malek membatin dalam hati. Lamunan Malek usai karena dibuyarkan ramainya rombongan pengantar jenazah yang membawa jenazah Cak Mun ke rumah abadinya lewat di depan warung. Tiba-tiba Malek berdiri dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Malek takzim atau mungkin malu?!
Kerudung
Oleh : Rangga Agnibaya

Surabaya, 3 Oktober 2007

Cerpen ini pernah dimuat di kolom cerpen Deteksi Jawa Pos, Indo pos, Radar Banten, dan Pontianak Pos


Assalamualaikum Wr Wb
Salam Hormat,
Ibu yang tercinta, bagaimana keadaan Ibu sekarang? Semoga kembang-kembang di taman kita masih senantiasa menyambut Ibu setiap pagi, serta mengiringimu ke peraduan kala senja menjelang. Besar juga harapanku ibu dalam keadaan sehat walafiat, dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Seperti saat Ibu melindungiku dari amukan Bapak 5 tahun yang lalu. Tentu masih terngiang di ingatan Ibu, betapa Bapak murka padaku pada waktu itu. Hingga Bapak mengusirku dari rumah, sebab Bapak menganggap bahwa aku telah berbuat sesuatu yang memalukan keluarga. -Benarkah aku mempermalukan Bapak dan Ibu? Jawablah dengan sesungguhnya Ibu, jika memang demikian adanya, maka kutuklah aku untuk tak kan pernah lagi bisa menjamah dan mencium telapak kakimu saat aku pulang nanti. Niscaya aku termasuk orang-orang merugi karenanya. Tapi aku merasa apa yang kulakukan telah sesuai dengan hati nurani, dan aku tak mau mengingkarinya. Bukankah Ibu sendiri pernah berkata padaku, bahwa tuntunan hati nuranilah yang membedakan perilaku manusia dengan hewan. Maafkan jika itu melukai hati Bapak dan Ibu. Kucium telapak kaki Bapak dan Ibu, aku mohon ampun. Biarlah awan hitam yang sempat menggantung di atas rumah kita kala itu, menyingkir bersama jejak-jejak langkahku.
Perlu Ibu ketahui juga, di sini (maaf sampai saat ini aku belum bisa memberitahu tempat di mana aku sekarang tinggal ) aku dalam keadaan sehat, dan tak kurang satu apapun. Mungkin dalam hati Ibu terbesit satu pertanyaan ; bagaimana caraku mencukupi semua kebutuhan ? yang pasti aku masih ingat dan mentaati semua nasehat Ibu, bahwa lebih baik kelaparan dan mati dengan ridho Allah, daripada kenyang dari hasil yang tidak diridhoi Allah. ‘Orang-orang kafir bagi mereka azab yang keras. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh bagi mereka ampunan dan pahala yang besar’ Semua itu aku jadikan pedoman dalam menjalani keseharian. Terima kasih untuk nasehatnya Bu.
Ibu, tentu saat ini di kampung kita sedang ramai sekali, sebab satu minggu lagi adalah Hari Raya Idhul Fitri. Aku kangen sekali suasana seperti itu, Ibu. Tahukah ibu, kadang aku melihat bocah-bocah telanjang berlarian dengan nuansa ungu di sekitarnya. Lalu sebuah cincin keperakan menyala terang di atas kepala mereka, atau aku yang sedang merasa rindu?! Jika dulu Ibu selalu menyiapkan gorengan dan es kelapa muda sebagai menu pembuka, lalu kita makan bersama-sama, aku, ayah dan ibu dengan suasana yang akrab sekali Di sini berbeda, seringkali aku menangis jika tiba waktunya berbuka puasa, dan tak seorangpun menemani berbuka. Bagiku kesendirian adalah malam-malam tanpa pintu dan jendela, hanya desau angin entah di mana. Bayang sendiri pun enggan berkelebat.
Aku juga masih ingat, ketika selesai berbuka puasa kita akan menunaikan sholat isya’ dan terawih di masjid kampung kita. Ibu berangkat bersama ayah, sedang aku menunggu Ita, Dewi, Sekar dan Yuli untuk akhirnya berangkat bersama-sama menuju Masjid. Ah teman-teman yang selalu manis. Kami adalah segerombolan angsa putih yang berenang di tepian kali, menunggu lelanang yang pergi mandi. Dan ingatkah ibu dengan Sapto? Ya Sapto, Iwan serta Agus tak pernah lelah menggoda kami berlima. Namun akulah yang paling sering mereka godai. Hingga suatu saat ketika aku sudah sangat kesal dengan ulah mereka, kulempar Sapto dengan pecahan bata hingga kepalanya berdarah-darah. Aku sangat menyesal, tapi Sapto sudah benar-benar keterlaluan. Waktu itu dia menepuk pantatku lalu tertawa terbahak-bahak tanpa penyesalan. Ah sudahlah, aku kesal sekali jika mengingat peristiwa itu. Mungkin anak-anak itu kesal, karena aku selalu menolak diajak bermain sepakbola waktu sore.
Kini yang ada hanya rasa sepi, sampai-sampai pada suatu malam Aku bermimpi Tuhan datang, lalu bersabda : Telah kubredel ketakutan dan kegemetaranmu. Kini bisa kaurayakan kesepian dan kesendirianmu dengan lebih meriah. Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak. Lurus kaku pohonan. Tak bergerak sampai ke puncak. Sepi memagut, tak satu kuasa melepas-renggut. Segala menanti. Menanti. Menanti. Sepi.

O ya bu, kerudung merah yang ibu belikan untukku dulu masih ada? Ibu masih ingat kan kerudung itu? Waktu itu aku ingin sekali dibelikan kerudung baru. Tapi ayah melarang. Beliau murka dan mencaci maki aku, katanya daripada membeli kerudung, lebih baik membeli hal lain yang lebih bermanfaat. Aku sangat terpukul. Kerudung baru itu telah menjelma dalam mimpiku. Sejak itu lelahku tak pernah tertidur dengan pulas. Detik jam serupa derap langkah yang selalu mengintai, menunggu kesempatan untuk menderu merajam diri. Apalah artinya gelap dan malam, jika mata enggan terpejam. Namun, lagi-lagi ibu menjadi dewa penyelamat bagiku. Dan aku tak akan pernah yakin bahwa kau seorang dewi, jika malam itu tak kulihat setangkai bunga mawar yang menyebarkan aroma harum tumbuh dari telapak kakimu, ibu. Tanpa sepengetahuan bapak, diam-diam ibu membelikan aku sebuah kerudung baru berwarna merah. Betapa senangnya aku saat itu, dan apakah ibu ingat, aku menciumi ibu sampai-sampai ibu menangis? Entah kenapa.
“Kenapa ibu menangis?”
“Bagaimanapun kau, kau tetap anakku nak.” Senjapun terharu mengucur tangis serupa ibu. Namun bagiku, jawaban ibu terasa tak menjawab pertanyaanku. Aku tak pernah mengerti apa maksud perkataan ibu waktu itu. Aku memang anak ibu, dan sampai kapanpun akan tetap anak ibu, hanya itu yang aku ketahui. Selebihnya, tidak.
Kerudung baru itu aku bawa tidur dan kupakai sesekali saat bapak tak ada di rumah. Satu pertanyaan yang sampai saat ini terus menggelayut di pikiranku : Mengapa sejak kecil hingga aku diusir dari rumah (saat itu usiaku 16 tahun, tentu ibu ingat), aku merasa bapak tak pernah benar-benar tulus menyayangiku. Suatu pagi aku melihat Bapak sedang mengobrol di teras rumah dengan seseorang, entah siapa. Aku tidak menguping, suara mereka yang terdengar keras.
“Tentunya dia akan jadi harapan terbesar bapak”
“Entahlah, tapi sepertinya kami tidak bisa berharap terlalu banyak pada dia.”
“Kenapa pak, dia kan anak satu-satunya?”
“Sejujurnya, mengakui dia sebagai anak adalah sebuah aib bagi kami.”
Kata aib menggelegar di telingaku, hingga rentetan kata-kata mereka selanjutnya tak terdengar olehku. Langit adalah rumah malam bersulam kelam, di bawahnya aku meringkuk dengan isak nan sedan. Aku tak yakin dengan siapa yang disebut “dia” oleh bapak. Tapi aku yakin bahwa akulah satu-satunya anak bapak. Apakah aku aib bagi kalian, ibu? Lalu mengapa aku sebagai aib, bukan sebagai kebanggaan? Ada apa dengan diriku ini, ibu? Apa memang Bapak yang kurang menyayangiku? Bapak tak pernah memandangku dengan sorot teduh, beliau selalu memandangku dengan angkuh, seolah ada jarak yang tak tersebrangi. Katakan ibu, ada apa denganku, dengan Bapak?
Ada satu peristiwa yang menggelikan dengan kerudung merah pemberian ibu, yang belum aku ceritakan kepada Ibu. Waktu itu ibu menyuruhku membeli telur di warung bu Ida. Karena bapak tak ada di rumah (aku tak pernah berani mengenakan kerudung baru itu, jika Bapak ada di rumah) aku memakai kerudung pemberian ibu itu. Di tengah jalan aku bertemu Sapto. Namun kali ini Sapto tampak lain, tak seperti biasanya. Dia tak lagi menggoda dengan menirukan cara jalanku yang dia pikir lucu atau menirukan gayaku bicara. Malahan, ketika aku hampiri dia, dia tampak seperti orang kebingungan. Matanya terus merabai kaki hingga kepalaku. Dan ketika aku berada tepat di depannya, kulihat Sapto sangat terkejut, sambil memelototkan matanya. Tidak aku duga, ketika kusapa dia, dia jadi ketakutan seperti melihat hantu. Akhirnya dia pergi sambil berlari. Bayangan tubuhnya tertinggal, lalu tersaruk-saruk memunguti ketakutannya sendiri. Sesaat aku bingung dengan apa yang terjadi, ‘apa yang di takuti Sapto dariku?’ Setelah aku pikir, Sapto pasti kapok menggodaku lagi, dia takut di lempar lagi sampai berdarah. Sungguh peristiwa itu membuatku tersenyum jika mengingatnya.
Dan akhirnya ibu, ibuku yang aku sayangi, karena kerudung ini pula semuanya menjadi seperti ini. Aku harus terpisah dari ibu, tanpa bisa merasakan puasa bersama-sama serta empat kali lebaran aku tidak sungkem pada ibu dan bapak. Sudah berpuluh kali aku serahkan jiwaku pada senja, tapi tak jua sesal ini mereda. Terus berkecamuk, tak tahu apa yang diamuk. Sedangkan kau ibu, kau selalu menggambar di atas lembar ingatanku. Maafkan aku ibu, maafkan aku. Ingin rasanya aku pulang ke rumah dan mencium telapak kaki ibu dan menceritakan semua yang telah kulewati tanpa ibu. Tapi aku masih merasa belum pantas untuk menerima maaf dari Bapak, yang terlanjur murka. Aku malu, malu sekali. Tapi sudahlah, jika waktunya tiba, aku pasti pulang menunaikan kewajiban yang tertunda ; merawat dan menemani ibu dan bapak melewati masa tua. Bukankah setiap yang pergi, pasti akan pulang?!
Ah betapa durhakanya aku. Bagaimana keadaan Bapak, bu? Sungguh aku benar-benar merasa rindu pada Bapak, meskipun mungkin beliau enggan sekedar mengingatku. Mungkin Bapak malah merasa bersyukur dengan kepergianku, aku telah benar-benar membuat murka bapak (meskipun sesungguhnya aku tak pernah merasa benar-benar paham dengan alasan murkanya Bapak). Ampuni aku bapak. Begitu inginnya aku bertemu Bapak dan memohon ampunannya. Betapa rindunya aku padamu Bapak. Hingga tiap lelaki tua seusiamu yang pernah kutemui kubayangkan sebagai Bapakku. Suatu hari aku bertemu seorang lelaki yang usianya mungkin sama dengan Bapak. Duduk di trotoar, beralas koran. Kakinya yang kanan tinggal separuh. Dia memukulkan kaleng sisa cat ke jalanan, menghasilkan bunyi gemerincing uang logam yang ada di dalam kaleng. Berharap orang-orang melemparkan beberapa uang logam ke dalam kalengnya. Pengemis-pengemis selalu merasa bahwa dunia sungguh dermawan. Setiap hari dimintainya hak diri yang tersebar pada orang-orang berada. Diulang-ulang esok dan esoknya lagi, berharap mereka tak berlagak lupa. Seketika aku teringat pada sosok Bapak. Rasa trenyuhpun menggumpal di dadaku. Aku hampiri lelaki itu, lalu kumasukkan beberapa lembar uang seribuan ke dalam kalengnya. Lantas aku menatapnya lekat-lekat. Dia tak membalas tatapanku. Matanya tetap lurus pada satu fokus, hanya tangannya terus berayun menghentakkan kaleng cat pada jalanan. “Cring...Cring...Cring...”
Aku berpikir siapakah gerangan putra dan putri lelaki ini yang begitu tega membiarkan bapaknya menggelandang tak bermartabat. Mudah-mudahan mereka sesungguhnya telah tiada, agar mereka tidak termasuk orang-orang durhaka, karena meninggalkan kewajiban sebagai darah daging. Sungguh aku tak ingin menjadi seperti itu. Apakah mungkin, dulu lelaki ini pernah mengusir anaknya karena merasa dibuat malu olehnya. Dan sekarang tak ada satupun anaknya yang peduli dengannya. Ampun ibu, aku tak ingin semua berakhir seperti itu. Aku tak ingin menjadi anak durhaka yang menelantarkan orang tuanya karena dendam. Aku tak pernah menaruh dendam pada Bapak. Bapak adalah segalanya bagiku, seperti halnya Ibu.
Pernah juga aku membayangkan pulang ke rumah. Di sudut kamar kulihat Ibu masih suntuk berjaga menjahit sarung dan selimut yang makin meruyak koyaknya oleh gesekan-gesekan cinta dan usia.
“Di mana Bapak?” Aku menyapa dalam hening suara. “Biasanya Bapak khusyuk membaca di bawah jendela.”
“Bapak pergi mencari kamu,” sahut ibu. “Sudah tiga puluh tahun ia meninggalkan ibu.”

“Baiklah, akan saya cari Bapak sampai ketemu. Selamat menjahit ya Bu.”
Di depan pintu aku berjumpa lelaki tua dengan baju usang, celana congklang.
“Kok tergesa,” ia menyapa. “Kita mabuk-mabuk dululah.”
“Kok baru pulang,” aku berkata.
“Dari mana saja? Main judi ya?”
“Saya habis berjuang mencari anak saya, tiga puluh tahun lamanya. Sampeyan sendiri hendak ngeluyur ke mana?”
“Saya hendak berjuang mencari ayah saya. Sudah tiga puluh tahun saya tak mendengar dengkurnya.”
Ia menatapku, aku menatapnya. “Selamat minggat,” ujarnya sambil mencubit pipiku.
“Selamat ngorok,” timpalku sambil kucubit janggutnya.
Ia siap melangkah ke dalam rumah, aku siap berangkat meninggalkan rumah. Dari dalam rumah Ibu berseru: “Duel sajalah!”
Entah kenapa aku merasa Bapak tak akan pernah bisa menerima aku kembali. Tapi harapan itu akan selalu bercahaya terang di dalam hatiku.

Seperti suratku yang sudah-sudah, aku ingin memberitahukan pada ibu, tentu juga kepada Bapak, bahwa lebaran besok, aku belum bisa pulang ke rumah dengan alasan seperti yang telah kutulis diatas. Sampaikan pada bapak, aku pasti pulang pada suatu akhir petang. Tentu dengan bunga plastik yang diberikannya saat dia mengusirku sambil menggebrak pintu: “Minggat saja kau bajingan. Aku akan selamanya di sini, di rumah yang terpencil di sudut kenangan.” Aku mohon beribu-ribu ampunan dari ibu dan bapak. Aku juga mohon doa restu, semoga aku selalu berada di jalan Allah SWT dalam menjalani hidup dan tak kurang apapun juga. Amin. Dan semoga ibu dan bapak selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin. Sekian surat dariku, jika nanti aku kangen dengan ibu, aku pasti mengirim surat lagi pada ibu. Sesungguhnya ibu tak pernah berhenti menyulam di pelataran kenanganku. Hanya engkau ibu, ibuku yang kusayangi. Wassalamualaikum Wr Wb

Anakmu : Eka S


Nb : Tdakkah ibu rasai, betapa aku telah menjadi sangat puitis?! Inilah hatiku ibu, hati yang merajam dirinya sendiri karena didera rindu. Rindu kepada dewinya. Dewinya yang selalu tersenyum teduh kala matahari bersinar terlalu benderang.

----***-----

Lelaki kurus itu terus berdiri di depan cermin. Dia telah tampak rapi. Badannya dibungkus baju koko berwarna putih cerah. Dipadu dengan sarung bermotif kotak-kotak berwarna biru tua. Sambil terus membenahkan kopiah hitam di kepalanya yang tak pernah dirasanya pas, matanya merabai kepala hingga ujung kakinya melalui cermin di depannya. Cermin tak pernah berteriak; ia pun tak pernah meraung, tersedan, atau terisak, meski apa pun jadi terbalik di dalamnya. Air wajahnya menampakkan ekspresi ragu, ada sesuatu yang mengganjal di hati. Lamat-lamat terdengar adzan isya’ mengumandang. Lelaki itu tergopoh, bingung apa yang harus dilakukan. Lalu satu persatu dia tanggalkan semua yang melekat pada tubuhnya. Baju koko, sarung, hingga kopiah dia tanggalkan dan diletakkan diatas kasur. Dia sambar mukena yang terletak di sebelah sebuah surat yang mungkin baru ditulisnya, dan mengenakannya hingga semua tubuhnya terbungkus warna putih. Perlahan dia berjalan ke depan cermin lagi, dan memandangi dirinya berbalut mukena dari dalam cermin. Tampak senyum merekah tulus tanpa dibuat-buat. Kemantapan tercermin dari senyumnya itu. Kemudian dia bergegas keluar dari kamar untuk menuju ke masjid, menunaikan sholat isya’ dan terawih.
Ternyata dia belum bisa, benar-benar belum bisa. Dia belum bisa membohongi kata hatinya.

Surabaya, Oktober 2006
SEPATU

Oleh : Rangga Agnibaya

Cerpen ini pernah dimuat di kolom cerpen Deteksi Jawa pos dan Pontianak pos


Siang itu langit begitu kelam bagiku, seakan-akan hari telah mengutukku dengan serapah mautnya. Ya, siang itu lagi-lagi ayah menolak permohonanku untuk membeli sepasang sepatu baru yang telah lama kuinginkan. Sepasang sepatu merk Nike terbaru, yang dipakai oleh para pemain basket top NBA. Mestinya kalau memang ayah mendukung hobiku bermain basket, tentu ayah takkan sesulit ini memenuhi permohonanku ini. Kalau permasalahnnya soal harga, aku pikir itu tak menjadi sesuatu yang sulit. Ayah seorang presiden direktur di sebuah perusahaan terkenal di Surabaya, memiliki empat rumah mewah dikawasan elite, termasuk yang kami tinggali sekarang. Mobil kami berjumlah empat, semua bermerk terkenal. Melihat ukuran itu saja, orang-orang pasti sudah menganggap kami ini salah satu konglomerat di Surabaya. Toh, harga sepatu itu hanya berkisar 800 ribu-1juta saja, tentu bukan suatu hal yang sulit buat ayah. Tapi kenapa ayah sulit untuk meluluskan permohonanku. Terakhir kali aku meminta Hp tipe terbaru yang harganya hanya 2juta rupiah, ayah baru meluluskannya satu bulan kemudian. Itupun karena Hpku memang sudah benar-benar tidak pantas untuk dipakai lagi, sebab terlalu sering jatuh. Tapi untuk soal sepatu ini, sudah hampir dua bulan ayah tak juga meluluskannya. Aku hampir putus asa, dan menganggap bahwa ayah tak benar-benar mendukung hobiku bermain basket itu. Memang sepatu basket yang kumilikki sekarang masih tampak baru modelnya, tapi saat ini sudah keluar model terbaru lagi, seperti yang digunakan oleh Adi, temanku bermain basket disekolah. Aku benar-benar kecewa, sebab aku tak segera memiliki sepatu itu, hanya karena ayahku yang pelit.
Malam itu saat makan malam, aku mencoba untuk memohon pada ayah lagi. “yah, masak ayah nggak mau membelikan aku sepatu baru itu?”. Kataku sambil terus memporak-porandakan nasi dan lauk yang ada di piring yang sedang kuhadapi. “sepatumu kan masih baru, kenapa mau beli lagi. Toh masih ada hal yang lebih penting kan?”. Ayah menjawab tanpa memandang kearahku. “tapi untuk saat ini, itu yang paling penting yah.”. aku menyahuti perkataan ayah dengan ketus. “kau masih terlalu hijau anak muda, untuk menentukan mana yang lebih penting untuk dirimu sendiri. Masih terlalu gegabah.”. ayah menjawab dengan bijak. “tapi yah, Adi saja yang bapaknya bawahan ayah dikantor, bisa memiliki sepatu itu. Kenapa aku tidak, ini namanya tidak adil.”. aku berkata sambil bersungut-sungut. Sesaat suasana menjadi hening, sebab ayah tak segera menanggapi omonganku itu.
“masih banyak orang yang lebih pantas untuk merasa tidak menerima keadilan daripada kamu, Ton.”. Tiba-tiba ayah berbicara memecah keheningan, lalu beranjak dari meja makan. Aku hanya terdiam saja, memandangi piringku yang masih penuh berisi nasi dan lauk, tidak berkurang sedikitpun. Ibu yang dari tadi mendengarkan percakapan kami, datang menghampiriku lalu mengusap-usap punggungku. Aku hanya diam saja, hanya helaan nafas yang terdengar keras dari mulutku.
“masih banyak orang yang lebih pantas untuk merasa tidak menerima keadilan daripada kamu, Ton.”. kata-kata ayah itu masih terngiang terus ditelingaku sampai aku hendak terlelap tidur. Jelas-jelas Adi lebih beruntung dari aku, padahal bapaknya itu bawahan ayah dikantor, itu kan namanya tidak adil. Pikirku. Ayah berkata seperti itu pasti hanya agar aku tak lagi memohon-mohon lagi soal sepatu itu. Baiklah, mulai besok aku tak akan lagi berbicara soal sepatu itu pada ayah. Biarlah keinginanku itu aku kubur dalam-dalam di dalam hati. Tapi yang pasti aku jadi tahu, bahwa ayah memang tak benar-benar mendukung hobiku bermain basket, seperti yang pernah dikatakannya dulu. Sebelum tidur, kembali aku memandangi poster didinding kamarku yang bergambar pemain top NBA memakai sepatu yang aku idam-idamkan itu. Aku membayangkan betapa kerennya kakiku memakai sepatu itu.
Esoknya disekolah, waktu istirahat sekolah. Aku hanya bengong saja memandangi teman-teman yang asyik bermain basket dilapangan. “Ton, nggak ikut main?”. Teriak Adi dari tengah lapangan. Aku tak menjawab, hanya menggelengkan kepala. “kenapa, lagi bisulan ya.”. sahut Riki, disambut tawa teman-teman yang lain. Aku hanya tersenyum kecut. Mataku tak pernah lepas memandangi sepasang kaki yang berlari kesana-kemari ditengah lapangan. Ya, itu kaki Adi yang tampak keren dengan sepatu Nike yang kuidam-idamkan. Betapa beruntungnya kau Di, ayahmu tak sepelit ayahku. Aku membatin dalam hati. Seandainya saja itu aku, berlari kesana-kemari, meloncat, dengan kaki berhias sepatu Nike yang indah itu.
Sore hari selepas pulang sekolah, aku bermain Playstation dikamarku. Lalu tiba-tiba terdengar suara dari luar kamar. “Ton, segera ganti bajumu. Ikut ayah sekarang.”. ayah berkata tanpa masuk kedalam kamarku. “mau kemana yah”. Jawabku. “masih ingin beli sepatu nggak?”. Tiba-tiba darahku berdesir kencang mendengar kata-kata ayah barusan. “iya yah, tunggu sebentar”. Tak lama kemudian aku sudah berada didalam mobil bersama ayah menuju sebuah mall yang berada ditengah kota Surabaya. Hatiku sangat senang sekali, membayangkan kakiku yang akan tampak keren memakai sepatu baru itu. Sepanjang perjalanan aku terus mengoceh tanpa henti, sedang ayah tetap dengan pembawaannya yang tenang, tanpa banyak bicara.
Sampai akhirnya ketika aku berada didepan pintu mall, aku melihat banyak sekali orang berlalu-lalang. Dan tiba-tiba keseimbanganku goyah, ketika aku menatap satu pemandangan yang memilukan hati. “masih banyak orang yang lebih pantas untuk merasa tidak menerima keadilan daripada kamu, Ton.”. perkataan ayah itu terngiang lagi ditelingaku. Kali ini berulang-ulang memenuhi telinga dan otakku. Hingga aku terpaku menatapi pemandangan itu tanpa henti.
Dihadapanku tampak seorang ibu yang tengah mendorong kursi roda memasuki mall. Dan diatas kursi roda itu, duduk seorang anak yang usianya hampir sama denganku. Tapi ada sesuatu yang membuat dia tampak benar-benar beda denganku. Aku tak melihat adanya kaki yang menjulur dari tubuh anak itu. Ya, pada bagian bawah anak itu hanya memiliki dua buah paha saja, bagian lutut sampai kebawah tidak ada. Maka dari itu dia tidak bisa berjalan sendiri, dan membutuhkan seseorang untuk mendorongnya dikursi roda. Sungguh pemandangan itu telah membuatku goncang. Betapa bodohnya aku, menganggap diriku tak seberuntung orang lain. Padahal apa yang aku milikki sekarang sangat-sangat lebih dari apa yang dimiliki oleh anak itu. Jangankan memimpikan sepatu, anak itu pasti akan lebih memimpikan untuk memiliki sepasang kaki yang utuh, seperti yang aku milikki sekarang ini. Tiba-tiba keinginanku memilikki sepatu baru surut begitu saja, tertelan sedetik peristiwa yang sangat memilukan ini. Aku benar-benar merasa malu pada diriku sendiri. “ayo Ton, kenapa berhenti”. Ayah membuyarkan lamunanku. “ yah, aku baru ingat, aku berjanji akan kerumah Adi sore ini, untuk mengerjakan tugas. Jadi sekarang aku harus segera kesana. Mungkin teman-teman sudah menunggu.”. aku berbohong pada ayah. Aku hanya ingin segera pulang dan melupakan sepatu itu. Sebab saat mengingat sepatu itu, aku merasa benar-benar malu pada diri sendiri. “lalu soal sepatu itu?”. Ayah berkata lagi. “lain kali saja yah, ternyata ada yang lebih penting”. Ayah tidak menjawab, hanya tersenyum ramah.
Akhirnya kami kembali pulang kerumah. Disepanjang perjalanan aku hanya diam saja. Bukan kecewa karena tidak jadi memiliki sepatu impianku itu, tapi aku kecewa kenapa aku baru bisa meresapi kata-kata ayah, setelah melihat pemandangan memilukan tadi. Tapi sudahlah, yang penting aku bisa ,mengambil pelajaran dari semua ini. Ternyata aku masih lebih beruntung dari beberapa orang yang kurang beruntung di dunia ini. “yah, ternyata memang masih banyak orang yang lebih pantas untuk merasa tidak menerima keadilan daripada aku”. Aku mengatakannya dengan penuh kesadaran pada ayah yang duduk dibelakang kemudi. Lagi-lagi ayah tidak menanggapi perkataanku itu, dia hanya tersenyum ramah penuh makna.

-SELESAI-
RITUAL MEMBUKA MATA
OLEH : RANGGA “ ROMBENG “ AGNIBAYA

Cerpen ini pernah dimuat di Kolom cerpen Deteksi Jawa pos dan Pontianak Pos

Membuka mata saat pagi adalah ritual yang sangat kutunggu untuk terjadi, sebab bisa dibayangkan apa yang terjadi jika itu tidak terjadi setelah beberapa jam aku memejamkan mata untuk tidur. Mungkin aku telah buta, atau yang lebih menyedihkan aku telah mati. Jadi saat ayam jago yang tidak tahu malu berteriak-teriak dengan suaranya yang sumbang dan matahari dengan malu mengintip dibatas cakrawala untuk menyapa langit, aku harap ritual itu telah terjadi.
“….Tunggu sebentar…. Kau lihat itu, ah…ritual itu akan terjadi….coba kau tenang sedikit…ya……..mulai terjadi…ya….ya……..sedikit lagi…..sedikit lagi….ya..ya….nah akhirnya…..”
***
Pagi itu langit sedikit tertutup tubuh awan yang biru kegelapan, sehingga warna langit tampak sedikit sendu. Tapi tetap saja, ayam jago yang sok jago itu dengan bangga memamerkan suaranya yang dia pikir merdu bak suara seksi Glen Fredly, atau mungkin di kalangan ayam-ayam betina dia sudah seperti Glen Fredly yang membuat histeris. Pagi ini aku merasakan ada yang berbeda, tidak seperti pagi-pagi yang biasanya. Ah mungkin aku sedikit sakit, kemarin kepalaku memang sedikit sakit, tapi aku telah minum obat untuk meredakannya. Kembali aku mengamati pemandangan diluar rumahku, orang-orang saling melempar senyum dan sapaan, ya kebiasaan yang sudah biasa aku temui di masyarakat yang penuh kepura-puraan ini. Tapi ada untungnya juga aku hidup di dalam masyarakat yang penuh kepura-puraan ini, sebab aku bisa menyembunyikan semua keluh kesahku tentang hidup yang terlalu menuntut ini menjadi sebuah senyuman. Jadi, beban yang menghimpit tidak terlalu dirasakan.
Masih terngiang di ingatanku, bagaimana perempuan yang kucintai memutuskan pertalian kami secara sepihak tanpa memberikan aku kesempatan untuk mengetahui apa permasalahannya. Saat itu aku benar-benar kacau, sampai-sampai aku merasa semua ini terlalu kejam buatku. Tuhan sepertinya senang mempermainkanku dengan senjata andalannya yang bernama takdir. Atau mungkin Tuhan seperti anak kecil yang sedang mempermainkan seekor cacing yang sekarat mendekati ajalnya, sangat senang sekali. Seolah tiap rintih cacing adalah gelak tawa baginya. Sampai pada akhirnya aku menemukan sebuah pelipur yang sangat ampuh untuk dukaku itu, benar-benar ampuh. Aku diangkat sebagai kepala bagian di tempatku bekerja. Pengangkatanku ini sebuah anugerah besar bagiku. Dengan kenaikanku ini aku menjadi lebih bisa menerima keadaanku sebelumnya. Aku merasa hidup sangat indah , Tuhan seperti seorang ayah yang bijaksana, memberikan hadiah pada anaknya, sebab telah berkenan dengan sedikit ikhlas menjalani kemauanNya.
Beberapa menit berlalu, aku harus segera bersiap untuk melanjutkan aktivitasku untuk menyambung hidup. Tanpa bisa melawan, tiba-tiba diriku tergerak pada sebuah rutinitas yang tidak bisa tidak aku lakukan. Menuju kamar mandi untuk mandi, berpakaian, sarapan, lalu pergi bekerja. Kadang kala aku ingin sekali bebas dari semua itu, melakukan apa yang aku kehendaki saja, tapi seakan-akan ada sesuatu yang tidak aku pahami mengendalikan semuanya. Sempat juga aku bertanya pada diriku sendiri, apakah kebaradaanku didunia ini hanya sebuah rutinitas-rutinitas yang kaku, tanpa ada kesempatan unuk mengatakan tidak, pada kenyataan. Tapi kalau ternyata keberadaanku ini hanya sebuah kewajiban untuk bertahan hidup, karena terlanjur diturunkan ke bumi, sambil menunggu waktu akhir tiba, aku akan memilih untuk tidak dilahirkan saja.
Satu bulan berlalu sejak pengangkatanku menjadi kepala bagian. Ternyata keadaan tidak seperti yang kubayangkan semula. Aku semakin merasakan keterasingan dengan semua yang aku lakukan, banyak hal yang aku lakukan, tapi tidak aku pahami sepenuhnya, untuk apa??. Semua perintah atasan aku lakukan dengan segera, tanpa mempedulikan kata hati yang kadang-kadang memaki “kau seperti kerbau dungu di tengah sawah“. Yang aku pahami, memang seperti itulah seharusnya bawahan terhadap atasan, tak lebih. Dan lagi-lagi aku merasa tak punya kuasa atas diriku sendiri, selalu ada sesuatu yang lebih kuat, terhormat, perkasa, menguasai diriku. Seperti ada sebuah pena raksasa yang menuliskan apa saja yang akan, atau sedang aku lakukan, dan semua itu diluar kendaliku.
Keadaan semakin tidak menyenangkan bagiku, ketika ada sesuatu yang tidak beres di perusahaan tempatku bekerja, dan dari kabar burung yang beredar akulah tersangkanya. Sungguh sebuah keadaan yang benar-benar membuat aku tidak nyaman.
“tolong bekerja dengan jujur……”. Kata atasanku padaku.
“Tapi…..”. aku tak sempat melanjutkan kata-kataku, sebab atasanku segera membanting keras-keras pintu mobilnya, dan meluncur deras meninggalkan aku yang kebingungan. Suasana sudah benar-benar kritis bagiku, sepertinya akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan jika aku diam saja. Aku harus melakukan sesuatu sebelum terlambat, setidaknya orang-orang harus tahu, mereka tidak boleh seenaknya saja terhadap diriku, aku punya kehendak atas diriku sendiri.
Siang itu aku berdebat panjang lebar dengan atasanku. Dan beliau tetap bersikukuh bahwa keadaan perusahaan yang memburuk adalah buah ketidakbecusan divisi yang aku pimpin dalam bekerja. Tapi aku merasa ada sesuatu yang tidak beres, seolah-olah permasalahan ini sengaja dimunculkan oleh pihak-pihak yang tidak senang dengan pengangkatanku menjdi kepala bagian, agar aku secepatnya bisa jatuh dari posisiku.
Tidak ada yang kedua kali, sebab kali ini aku ingin aku yang menentukan segala sesuatu tentang diriku, bukan pihak lain. Akan aku buktikan bahwa apa yang akan terjadi padaku adalah kehendakku sendiri.
“baik pak, saya tahu apa yang harus saya perbuat“.
“bagus kalau begitu“
“sebelum bapak meminta pada saya, saya yang akan meminta terlebih dahulu. Saya mengundurkan diri dari perusahaan ini. Saya benar-benar ingin keluar dari sini“. tanpa sadar aku setengah berteriak mengatakan semua itu didahapan atasanku. Atasanku hanya diam saja, seperti orang yang tak tahu harus bicara apa. Tapi aku tak mau pusing-pusing memikirkannya, segera saja aku keluar dari ruangan itu tanpa berpamitan terlebih dahulu.
**
Matahari tinggal beberapa jengkal lagi akan menyentuh cakrawala. Entah, sudah berapa jauh aku menyusuri rel kereta api yang tak berujung ini. Sebuah keputusan yang tepat telah kuambil he..he.., setidaknya dia tahu bahwa aku yang menentukan semua tentang diriku bukan dia. Sore itu aku benar-benar puas sekali, sebab semua berjalan sesuai kehendakku sendiri. Aku tak merasakan penyesalan sama sekali, meskipun aku harus kehilangan pekerjaanku. “Aku berkehendak atas diriku sendiri“. tanpa sadar aku telah berteriak, sehingga menarik perhatian orang-orang yang ada disekitar rel kereta api yang sedang aku telusuri ini. Tapi biarlah mereka tahu, mereka harus mengetahui juga tentang kemenanganku ini.
Tiba-tiba dari arah belakang aku merasakan ada sebuah gelombang pasang yang menggulung tubuhku, sehingga aku terpental keluar dari jalur rel. dan aku terbaring lemah, pada beberapa saat aku merasakan matahari sore ada tepat diatas kepalaku, tubuhku merasakan hawa yang sangat panas sekali. Tapi perlahan-lahan semua menjadi berbalik, hawa dingin menyergap diriku, dan lama-lama sangat dingin sekali. Ada sesosok yang mendekatiku, tapi mataku tak bisa melihatnya dengan jelas, kabur sekali, padahal kini dia berada tepat disebelahku. Yang bisa aku tangkap adalah, ia sangat panik. Tapi entah apa yang dia panikkan. “Kenapa Tuhan membenciku?“. Tanpa sadar aku mengucapkannya pada sosok yang ada didekatku itu. Sambil menyembunyikan kepanikkannya ia mencoba menjawabku. “Sudahlah….kau jangan banyak bicara dulu. Yang pasti ini semua sudah kehendak Tuhan, dan kau tak akan bisa menghindarinya. Tuhan tidak membencimu, mungkin Tuhan punya rencana lain untukmu“. Aku berusaha terus mendengar ucapannya, tapi semakin lama yang kudengar semakin lirih.“ Semua telah ditulisNya pada sejarah kita masing-masing, kita ini hanya seorang tokoh dalam sebuah cerita kehidupan. Jadi jangan kau menganggap bahwa Tuhan membencimu. Tuhan itu Maha Baik, pengasih, penyayang, pengampun, pemurah…………“. Sekarang aku benar-benar tak bisa mendengar suaranya lagi. Aku sangat mengantuk, mataku sangat berat untuk tetap terbuka. Semua di sekitarku kulihat tak berwarna, dan akhirnya……semua menjadi pekat.
------------()----------
Seorang redaktur berpakaian rapi tampak menimang-nimang sebuah naskah yang lumayan tebal ditangannya. Disebelahnya seorang penulis yang berpenampilan agak lusuh, dikarenakan suatu pekerjaan yang melelahkan badan dan pikiran, menyruput secangkir kopi panas dengan ujung bibirnya, lalu menyalakan sebatang rokok.
“Aku takkan membaca ulang naskah ceritamu ini, tapi aku ingin sedikit bertanya. Kau apakan akhirnya tokoh utama dalam ceritamu ini?“. Pria rapi menampakkan wajah yang serius. “Mati, tertabrak kereta“. Sang penulis menjawab dengan santai. Lalu kembali dia meminum kopinya, kali ini dengan satu tegukan penuh. Sang redaktur tampak sangat gusar atau bahkan muak, tapi tak ada satu kata yang keluar dari mulutnya.
Suasana hening
“Kau memang penulis yang kejam, biadab, tak berperasaan, tak punya rasa belas kasih!!”. Tiba-tiba sang redaktur berkata bertubi-tubi memecah keheningan. Sesaat kemudian dia beranjak dari tempat itu dengan tergesa tanpa berpamitan, sambil membawa naskah ditangannya. Sang penulis hanya diam saja, lalu menghisap rokoknya dalam-dalam sembari tersenyum puas.

RAZIA

Oleh: Rangga Agnibaya

Karya ini pernah dimuat di kolom cerpen Deteksi Jawa Pos dan Pontianak Pos

Seorang lelaki dengan mata kuyu memandangi warungnya yang sudah tak berbentuk. Duduk lemas di tanah, kakinya diselonjorkan, sedang beberapa rekannya sesama pedagang mencoba mengusap punggungnya sambil mengucapkan sepatah dua patah kata untuk menguatkan lelaki tersebut. Tampaknya dia baru tersadar dari pingsan.

“Siti…Siti…” Lelaki malang itu bergumam lemah.
****
Darman gelisah. Matanya melotot kanan kiri, menyapu sepanjang jalan yang ada di hadapannya. Adukannya kacau, air kocar-kacir di sini situ. Suara teriakkan pembeli terdengar lirih di telinganya, lalu lenyap dibawa angin. Ada rasa takut yang coba dipendam, namun gagal. Sorot matanya nanar dan resah, menantang fatamorgana yang tercipta oleh panasnya aspal jalan yang dirajam sinar matahari dari atas. Kopi yang sedari tadi diaduknya, tak juga diangsurkan pada pemesannya. Membayangkan sesuatu yang tak patut dibayangkan.
“Man, kopinya mana?” Teriak pembeli yang nglesot dibawah menghadap jalan raya.
“Ini tehnya belum diberi gula ya Man?” Teriak yang lain.
Darman tak bergeming. Dia masih asyik dengan dunianya sendiri yang sedang kelabu. Diletakkannya sendok pengaduk, bersiap mengangsurkan kopi pesanan. Tapi tiba-tiba dia terhentak dan diam mematung. Secangkir kopi yang ada di tangannya, dibiarkan mengambang. Matanya, matanya lagi-lagi menyorot gelisah. Di kejauhan tampak orang-orang sibuk berlari-lari tanpa maksud. Justru hal itulah yang membuat Darman terpaku dan semakin gelisah. Dadanya naik turun, darhnya berdesir kencang, memacu adrenalinnya memuncak. Buliran keringat mulai menetes dari dahinya. Kopi yang dari tadi ada di tangannya ikut terguncang. Sedikit isinya tumpah di atas tatakan gelas. Darman benar-benar ketakutan.
Tak lama kemudian, kesibukan yang tadi tampak di kejauhan mereda, dan akhirnya tenang kembali. “Tidak mungkin hari ini….,” Darman bergumam sendiri, seperti ada yang perlu diyakinkan dalam hati. Sorot matanya kembali tenang, nafasnya diatur satu-satu, lalu bergegas mengangsurkan pesanan.
****
Para pembeli sibuk bercengkrama sambil menikmati teh, kopi, josua atau minuman lain buatan Darman. Asap mengepul dari mulut para perokok, sedang yang lain cukup dengan menikmati jajanan yang tersedia di tempatnya. Bisingnya kendaraan yang lalu lalang membuat suasana semakin membumi dan santun terhadap norma-norma kehidupan jalanan. Darman terpekur di belakang gerobaknya. Lamunan membawa rekaman peristiwa yang lalu berputar kembali di otaknya.
“Pak!!!” Suara renyah mengagetkan Darman, yang dari tadi melamun di atas lincak ditemani secangkir kopi dan rokok. Darman tersenyum pada Siti, anaknya. Keduanya tampak akrab dan terlihat sangat mensyukuri atas apa yang ada pada mereka. Meskipun kehidupan yang layak masih belum mau akrab denga mereka, mereka masih bisa tersenyum, tertawa, dan bercanda ria.
“Siti tidak sekolah, nak?” Siti merengut, lalu menjawab tanpa berani memandang bapaknya. “Siti diskors pak. Sebelum melunasi uang sekolah selama tiga bulan, Siti tidak boleh masuk sekolah.” Darman menghela nafas. Baginya ini bukan berita baru. Sudah sering Siti diskors karena menunggak uang sekolah.
“Siti tenang saja, bapak pasti lunasi uang sekolahmu. Supaya Siti bisa masuk sekolah lagi. Bapak akan bekerja lebih keras lagi,” Darman mencoba meneduhkan hati putrinya itu.
“Tapi bagaimana caranya? Bapak dan kawan-kawan bapak kan sudah memperoleh peringatan keras agar tidak lagi….” Siti menghentikan kata-katanya, sebab dia melihat bapaknya menempelkan telunjuk pada bibir dan mendesis pelan. Siti paham, bapaknya enggan diingatkan perihal yang membuat bapaknya itu sering termenung akhir-akhir ini. “Itu urusan bapak” Darman menambahkan lirih, sambil matanya kembali menerawang hampa.
****

Tak terasa, angin sepoi mulai mewujud sebagai angin malam yang sedikit menusuk tulang. Darman masih terpekur di belakang gerobaknya. Menunduk, layu, tanpa gairah. Memandangi pembelinya yang hiruk pikuk diiringi sendawa. Gurat merah mulai hadir menyirami lautan biru yang terhampar angkuh di angkasa. Suara puji-pujian bernafas islami mulai terdengar satu dua dari masjid atau musola yang ada di sekitar jalan itu, menandakan sesaat lagi Magrib akan tiba. Suasana jalanan yang tadinya gerah dan penuh amarah berubah menjadi sungguh melankolis. Terlebih lagi bagi Darman, yang sedang dirundung gelisah.
Semuanya berlangsung sangat lambat, seperti film yang diputar secara slowmotion.
Lalu , Darman terhentak dan mematung melihat pemandangan yang tiba-tiba hadir di hadapannya. Bulu romanya berdiri, memucat pasi. Sorot matanya yang resah berubah sepotong desah. Ribuan lalat seakan keluar dari telinganya. Bergemuruh serupa guruh. Darahnya tak lagi berdesir kencang seperti tadi siang, tapi berhenti mengalir. Dadanya naik turun tak karuan, memacu adrenalin memuncak. Pandangannya mengabur, dan hambur. Dilihatnya orang-orang di sekitarnya hilir mudik, sibuk tanpa tujuan. Suara-suara yang ada hanya serupa kumpulan tawon yang berdesing bising.
“Jangan Pak!…”
“Kami angkat sendiri pak…”
“Kami sudah beri peringatan..”
“Kita ini orang kecil”
“Salah sendiri!!”
“Kami mau makan dari mana ?”
“Hei..hei..jangan diangkut…”
Berbalik seratus delapan puluh derajat, semua yang tadinya berjalan sangat lambat, kini terjadi secepat kilat. Darman bingung, tak berpijak, melayang jauh dari bumi. Yang dapat dilakukannya hanya merasakan. Merasakan bahwa celananya basah dan pesing. Darman terkencing-kencing.
Di tengah keadaan seperti itu, hanya suara puji-pujian menjelang Magrib, mampu ditangkap dengan jelas oleh Darman. Mendayu-dayu di telinganya diiringi suara sibuk orang-orang yang tak jua berhenti. Menelusup ke dalam jiwa yang beku, membelainya hingga lelap. Lalu semua pekat.
SELESAI

Rabu, 28 Mei 2008


Selepas Tuhan Alpa

Suara orang berdzikir menari-nari di telinganya
Tapi hatinya masih lelap, kadang juga kalap
Bak seorang pandir teriak-teriak:
“Tuhan, aku masih mau mangkir”

Dipakainya sarung di kepala
Kepala masuk di dalam sarung.
Berjalan murung mengutuk latta
“brengsek, ternyata malam ini Tuhan alpa”

Tapi Tuhan sudah menunggunya dengan senyum
Dengan cambuk terayun-ayun, siap menghajar
Sombongnya yang ranum.

Sehabis mengumandangkan adzan dia pulang,
tak ikut sholat. “Aku tak sedang tersesat” katanya laknat,
Walau kadang edannya sering kumat.

Di kaki malam dia tersungkur
Dilindas keyakinannya yang mulai lebur.

Lebaran 2

Di ujung cakrawala mereka menanti bulan
Di balik cakrawala bulan berkabar:
“maaf saya cuti, mudik.”

Minggu, 06 April 2008

Puisi


Penjaja Rokok
Pro: Darman


Beban hidup bergelantungan di pundaknya, minta dijual.
Tapi hari masih pagi. Mulutnya sudah teriak-teriak
Minta nasi, minta dibeli.
“Mas cowok, mbak cewek, rokoookk!”

Semakin siang beban diubah jadi uang.
Tak boleh utang. Kadang berhenti, sewaktu-waktu berlari
takut pembeli pada pergi.

Kalau celananya mau melorot
dia berhenti kendorkan otot.
Senda gurau dengan anak-anak mama yang merokok,
sembunyi-sembunyi takut dimarahi.

Clepat cleput rokok melayang dari sangkar
Hitung laba sambil mulut teriak bingar.
“Mbak cewek, mas cowok, rokooookk!”
Bibir-bibir mengepul asap, tebarkan abu
pusingkan tukang sapu.

“minta rokoknya satu”
Ah, bukankah kau penjaja rokok
“jangan nanti saya rugi”
Tapi kan sudah banyak yang beli

“tetap saja nanti rugi”
Ditawarkan rokok tebal bermerk samsu
“jangan yang itu, kalau bisa surya saja.”
Keluarkan saja dari kantong jualan
“sudah dibilang nanti rugi”
Ambil saja samsu ini. Tukar dengan surya daganganmu
*.
Lalu hisap sesukamu, untung samsu masuk saku.
“ah ya, mana kalau begitu!”

Sore hari, timbunan beban berganti dengan
saku baju yang menggelembung penuh uang.
Melangkah santai, menghisap rokok kesukaan hati
tanpa harus merasa rugi.

RANGGA, 2007

* Harga rokok Samsu (Dji Sam Soe) lebih mahal dari rokok Surya



Perempuan Yang Selalu Belok Tanpa Lampu Sen

“Dari bawah trafficlight aku melihat semuanya dengan haru”

Perempuan anggun dengan pembawaan yang anggun,
memacu motor sambil melamun.
Dipacunya hingga 60 km/jam, agak kencang memang,
maklum, takut malam semakin dalam.

Membelah remang malam dengan perasaan
sedikit kelam. Sebab kekasih pergi tanpa salam.
Aspal keras semakin mengeras.
Ketika amarahnya melindas-lindas,
dengan tatapan pedas, bahkan beringas.

Di perempatan jalan dia belok kiri
seakan menuju arah yang mati.
Tak tampak lampu sen menyala, hanya rambutnya
bergoyang-goyang dihembus angin ke utara.

Dipacunya lebih kencang
agar semua tahu dia lagi bimbang.
Tak peduli sampai 100 km/jam
asalkan penat mau pergi, tanpa harus berbagi;

Berbagi dengan luka
Berbagi dengan duka
Berbagi dengan gulana
Dengan dendam
Pedih
Perih
rintih
Atau bahkan maut, yang nuntut-nuntut minta menjemput.

Pada kelokan terakhir sebelum ajal
ia temui jalan yang terjal. Sekilas belok kanan
lalu melesat ke haribaan.
Kali ini pun kulihat tak ada lampu sen menyala
Hanya kerlap-kerlip cahaya kunang,
redup menerangi pusaranya.

“Dari bawah Trafficlight aku melihat perempuan
yang selalu belok tanpa lampu sen”

RANGGA, 2007


Lebaran

Selepas sholat Id dihajarnya opor ayam dan ketupat di meja.
Penuh kemenangan dia berteriak-teriak bingar:
“Inilah hadiah bagi orang-orang yang beriman”

Anak, cucu, menantu berbaris segaris
Hendak sungkem kepadanya.
Anak “Maafkan nanda, belum bisa memberangkatkan naik haji”
“Tapi rumah megah ini sudah lebih dari cukup nak” Jawabnya berlinang airmata
Cucu “Maafkan saya, belum bisa mengajak berkeliling dunia”
“Tak mengapa, kau sudah memberangkatkanku naik haji, tahun lalu” Jawabnya hampir tersedu.
Menantu “Maafkan menantumu ini, belum bisa memberikan rumah yang layak”
“Ah sudahlah, kau sudah mengajakku berkeliling dunia setengah tahun yang lalu” Jawabnya sesak karena terisak.
Ada yang berbisik “Lantas apa yang belum dia dapatkan?”
“ Mungkin tinggal matinya saja yang belum” Bisik yang lain.

Satu persatu tersedu di hadapannya
Setelah anak, cucu, dan menantu, giliran para tetangga.
Tetangga jauh, dekat. kenal, tak kenal. Baik, jahat, sampai gelandangan pun sungkem padanya. Minta maaf atas segala kesalahan.
Tapi kesalahan tak mau dimintai maaf.

Selepas matari tergelincir airmatanya mengalir
“Tak ada yang menjanjikanku pengayoman di masa renta.
“Dan lagi, tahun ini pun aku tak sempat meminta maaf.
Kepada siapa pun.”

Surabaya, Oktober 2007



Potret Seorang Sarjana

Seorang pemuda berjalan sampai larut, lantas mencabut sehelai rumput
untuk diselipkan pada celah-celah bibirnya yang penuh kerut.
“biar seperti tokoh-tokoh film yang lagi kalut” katanya, sambil
menyombongkan nyalinya yang semakin lama semakin ciut.

Sesampainya di depan rumah, pintu tak bisa dibuka
”bakar saja aku!!” teriak ijasah sarjananya lantang, seperti wanita jalang yang matanya nyalang.
”mabuk yuk..” sindir tikus yang keluar masuk lubang, sibuk bekerja.
”tapi, tunggu aku selesai bekerja dulu ya...” sang tikus mencericit, lantas terbirit.

Seorang perempuan paro baya menghampirinya
lantas meludah tepat di telinganya
”supaya kau mendengar dengan telingamu” teriaknya melebihi wanita jalang.
Dikabarkan pada pemuda itu, bahwa dia telah diterima bekerja
pada sebuah perusahaan yang semua pegawainya bebas menganggur
”ah akhirnya, aku mendapatkan pekerjaan seperti yang kuinginkan” katanya,
lantas pergi mendengkur.

Surabaya, 2008