PENCURI
Oleh: Rangga Agnibaya
“Sama saja. Yang diucapkannya selalu sama setiap tertangkap, seperti dua minggu yang lalu, ketika tertangkap basah mencuri pasta gigi.” Satpam bermuka masam itu duduk tepat di sebelah temannya. Masih dengan muka yang masam.
“Omongannya ngelantur kaya orang gila. Atau mungkin dia benar-benar orang gila. Kalau begitu, buang-buang waktu dan tenaga saja aku tadi, brengsek.”
Temannya menoleh sembari melipat Koran yang dibacanya dari tadi. Sambil tersenyum simpati dia angkat bicara.
“Mungkin caramu yang salah.” Mengambil gelas berisi kopi yang tinggal terisi setengah, lalu menandaskannya dengan sekali hisap. “Kau lihat caraku sebentar lagi. Harus dengan kesabaran. Sabar,sabar, sabar dan sabar. Itulah kuncinya.he…he.” Tersenyum menggoda temannya yang semakin masam, karena diremehkan kemampuan menginterogasinya. Lalu dia bergegas menuju ke dalam ruang pemeriksaan.
Sesaat suasana hening sekali, tidak terdengar suara apa-apa dari dalam ruangan pemeriksaan. Satpam bermuka masam berpikir, mungkin temannya menerapkan strategi yang benar-benar berbeda dengan dirinya, benar-benar halus, dan sabar.
Untuk beberapa saat suasana tetap hening.
Lalu tak lama kemudian. “Bruaakkkk….” Suara kursi atau mungkin meja dibanting ke lantai terdengar dari dalam ruang pemeriksaan. “Bruaakkk….” Suara itu terdengar berkali-kali.
“Dasar wong gendheng, maling sarap ” Suara membentak terdengar keras sekali dari dalam ruang pemeriksaan, hingga di luar ruang pemeriksaan. Orang-orang yang kebetulan lewatpun kaget bukan kepalang.
“Keluar!! Dan jangan pernah kembali lagi ke sini. Dasar orang gila!!!!”
Satpam bermuka masam menoleh ke belakang dari posisinya duduk. Dan menatap lekat-lekat pintu ruang pemeriksaan yang masih tertutup. Menunggu sesuatu muncul, keluar dari ruang pemeriksaan. Lalu perlahan gagang pintu yang bundar berputar kearah kiri, bersamaan dengan itu pintu bergeser ke dalam ruangan pemeriksaan.
Muncul sosok lelaki tua, usianya antara 70-75 tahun. Rambutnya telah berubah menjadi uban semua. Tapi badannya tampak masih tegap, meski tak setegap dua satpam yang telah menginterogasinya. Wajahnya penuh keriput kehidupan. Telinga kanannya tampak aneh karena tinggal separuh. Melangkah gontai, pelan tapi tidak terseok ataupun tertatih, wajar-wajar saja. Dia terus berjalan menuju pintu pos yang berada tepat di sebelah kanan satpam bermuka masam duduk. Ketika tepat melewati satpam bermuka masam, lelaki tua itu menoleh sambil tersenyum polos. “Nyuwun sewu .” Sapanya pada satpam bermuka masam sambil tetap tersenyum. Satpam bermuka masam membalas dengan tatapan enggan penuh selidik, tapi tanpa bersuara.
“Biarkan saja dia pergi Jo. Polisi pasti malas mengurus orang-orang seperti itu. Paling-paling dilepaskan lagi, sebab dianggap orang sinting.” Teman satpam bermuka masam berteriak dari ruang pemeriksaan. Samara-samar terdengar suara meja dan kursi dirapikan posisinya. Satpam bermuka masam diam tak menjawab, menatap lelaki tua berjalan menjauhi pos penjagaan, lalu area pertokoan dan kemudian hilang ditelan kerumunan orang yang berlalu lalang.
“Sabar, sabar, sabar dan sabar, itulah kuncinya. He..he..” satpam bermuka masam mengejek temannya yang keluar dari ruang pemeriksaan dengan muka masih merah padam. “Aku bilang juga apa! Orang gila dilawan.” Dia meneruskan.
“Ah, aku yakin dia hanya pura-pura gila. Enak saja dia. Waktu berbuat, benar-benar sadar dan kemaruk. Eh giliran ketangkap basah, pura-pura gila, pura-pura sakit. Kuno!klise!klasik! mental tempe!! Dari profesi maling sampai pejabat kok sama saja kalau masalah begituan.” Teman satpam bermuka masam berapi-api, hingga tanpa sadar air liurnya yang menyembur membuat lalat yang bertengger di meja berterbangan karena takut atau bahkan jijik.
“Omonganmu ada benarnya juga Lek. Tadi, waktu kita bebaskan, dia tidak menunjukkan gejala-gejala gila lagi. Bahkan dia sempat berpamitan padaku.”
“Lha iya kan!? Benar kalau begitu dia hanya pura-pura sinting tadi. Yang namanya orang gila itu tidak perlu yang namanya pengampunan. Gila ya gila. Beda kalau pura-pura gila, begitu tahu dapat ampunan, gilanya langsung hilang. Aah kuno!klise!klasik! Mental tempe!” Malek semakin berapi-api, sebab merasa dibodohi oleh orang gila yang pura-pura gila. Bejo hanya tertawa kecil, sebenarnya dia ingin sekali melepaskan tawanya, tapi takut temannya yang sedang geram menjadi semakin geram.
------****------
Seminggu setelah peristiwa interogasi yang gagal, Malek bertandang ke rumah Bejo. Ketika itu sore hari. Namun meskipun sore, panas sinar matahari masih terasa menyiksa di kulit. Cukup berjalan kaki limabelas menit, Malek akan sampai di rumah Bejo. Namun beberapa meter sebelum tikungan terakhir menuju rumah Bejo, kaki Malek terhenti. Matanya tertuju pada sebuah rumah kecil yang saat itu ramai sekali dipenuhi orang pelatarannya. Dari bendera kuning yang terpasang dipagar rumah tersebut sudah cukup membuat Malek yakin bahwa ada seseorang dari penghuni rumah tersebut yang meninggal dunia. Tapi bukan itu yang membuat Malek sedikit menelan ludah yang pekat. Sebuah foto, dan itu pasti foto orang yang meninggal dunia, dipajang dipelataran bersama beberapa karangan bunga yang berwarna-warni. Malek mengenal foto tersebut, ya itu foto lelaki tua yang seminggu lalu dia interogasi bersama Bejo karena tertangkap basah mencuri sikat gigi. Tapi di foto itu lelaki tua tersebut tampak lebih berwibawa. Dia mengenakan peci khas para veteran perang kemerdekaan. Untuk menyingkirkan seribu pertanyaan di hatinya Malek singgah di warung yang letaknya hanya beberapa rumah dari rumah duka. Kemudian dia memesan es teh sebelum bertanya-tanya pada pemilik warung, untuk mengorek keterangan.
“Itu siapa yang meninggal ya bu?” Malek bertanya pada pemilik warung, tapi matanya masih mengarah pada rumah duka.
“Itu Cak Mun yang meninggal.” Pemilik warung menyerahkan es teh yang telah dipesan Malek sebelumnya.
“Cak Mun?”
“Ya Cak Mun, namanya pak Mundari, tapi almarhum maunya di panggil Cak Mun saja. Sebab katanya dulu waktu masih jadi pejuang, teman-temannya memanggil Almarhum demikian.”
“Pejuang?”
“Iya, dulu Cak Mun itu seorang pejuang. Telinga kanannya yang tinggal separuh itu, dirobek peluru musuh, waktu ikut serta dalam pertempuran habis-habisan di jembatan merah. Tapi sayang meskipun dia berjasa karena ikut memperjuangkan nasib negeri ini, tapi nasibnya tidak pernah diperjuangkan oleh pemerintah. Malah justru hidupnya dipersulit.”
“Maksudnya?” Malek meminum es tehnya hingga tinggal separuh gelas.
“Iya. Sebelum tinggal di rumah anaknya itu. Cak Mun tinggal di rumahnya sendiri. Tapi karena surat-surat rumah tersebut tidak lengkap, jadi hak kepemilikannya kurang kuat. Dan akhirnya rumah Cak Mun dan beberapa rumah disekitarnyapun dirobohkan untuk dijadikan pertokoan.”
“Almarhum diam saja?”
“Tentu saja tidak. Almarhum protes pada pemerintah, karena merasa sebagai pejuang tidak pantas diperlakukan seperti itu.”
“lalu?” Malek mencuri pandang kearah rumah duka. Malek melihat orang-orang bersiap membawa keranda yang diselimuti bendera merah putih menuju pemakaman.
“Cak Mun mendapat jawaban yang sangat menyakitkan. Katanya pejuang dibutuhkan pada masa perjuangan, sekarang jaman pembangunan pejuang tidak dibutuhkan lagi. Mendapat jawaban demikian mental Cak Mun tidak siap, jiwanya terganggu dan menjadi gila.”
“Gila?” Tenggorokan Malek terasa tercekat dan pekat sekali. Dia menandaskan es tehnya, untuk membasahi tenggorokannya.
“Iya gila. sudah setahun ini Cak Mun terganggu jiwanya. Almarhum sering berperilaku seperti saat masih menjadi pejuang dulu. Tingkahnya, gaya bicaranya semuanya menggambarkan seolah-olah sekarang ini jaman perjuangan.”
Malek merasa ada yang memukul-mukul dadanya, dan rasa malu menggelembung besar didalam benaknya. Tapi ada satu lagi pertanyaan penting yang ingin dia tanyakan pada pemilik warung, tapi dia ragu.
“Kalau boleh tahu, bagian apa ya Cak Mun dulu?” Malek bertanya penuh keraguan.
“Bagian apa gimana ya?”
“Ya, dulu waktu jadi pejuang Cak Mun mendapat bagian apa? Di garis depan, medis atau dapur?”
“Oh, dulu Cak Mun pernah cerita waktu jaman perjuangan dia dan beberapa temannya mendapat tugas khusus. Dia bertugas mencuri peluru dari gudang penyimpanan senjata milik Belanda waktu malam hari. He..he lucu ya, pejuang kita dulu ternyata juga ada yang jadi pencuri. Tapi kan buat kebaikan bangsa he..he..”
Malek tersenyum kecut, kecut sekali. Tiba-tiba dalam pikirannya tergambar sangat jelas saat-saat dia menginterogasi Cak Mun seminggu yang lalu. Saat itu dia benar-benar dibuat naik pitam oleh jawaban-jawaban Cak Mun yang meluncur polos dan apa adanya, hingga dia menganggap Cak Mun pura-pura gila karena belum tahu latar belakang Cak Mun sesungguhnya. Pikirannya terus mengembara menghadirkan saat-saat itu lagi.
“Kenapa bapak mencuri sikat gigi ini?”
“Tugas negara”
“Lalu untuk siapa bapak mencuri? Untuk bapak sendiri atau untuk keluarga?”
“Sudah saya katakan ini tugas negara, jadi semua ini ya buat negara, ibu pertiwi saya, Indonesia. Merdeka!!!”
“Dari mana asal bapak?”
“Divisi perbekalan Ambengan, tapi kadang-kadang diberdayakan juga di Tambaksari. Tergantung situasi dan kondisi.”
“Sekarang mau bapak apa?”
“Goblok!! Dasar kompeni. Harusnya kamu tahu, orang-orang seperti saya ini mestinya dapat tanda jasa. Jangan malah dipersulit hidupnya. Dasar goblok!”
Malek ingat, setelah kata-kata Cak Mun yang terakhir itu dia membanting kursi di depan pahlawan tersebut karena tersinggung.
“Maafkan aku Cak Mun, aku telah menyamakan dirimu dengan maling-maling rakus yang membikin negara ini rusak. Tidak, kau tidak seperti itu. Kau maling yang mulia, mentalmu mental baja bukan mental tempe seperti mereka. Sekali lagi maafkan aku Cak Mun.” Malek membatin dalam hati. Lamunan Malek usai karena dibuyarkan ramainya rombongan pengantar jenazah yang membawa jenazah Cak Mun ke rumah abadinya lewat di depan warung. Tiba-tiba Malek berdiri dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Malek takzim atau mungkin malu?!
